18 Tahun Bencana Kabut Asap Di Sumatera #MelawanAsap

bencana asap mengganggu proses belajar mengajar

Kabut asap yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Karena dampaknya sangat menyengsarakan mereka, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, juga pendidikan. Sudah 18 tahun bencana kabut asap terjadi di kota-kota di Sumatera. Setiap tahunnya bisa terjadi satu sampai dua kali periode kebakaran dan penanganan per periodenya bisa memakan waktu satu sampai dua bulan.

bencana kabut asap ini pertama kali datang di daerah Sumatera pada musim kemarau tahun 1997. Waktu itu, masyarakat kebanyakan (terutama anak-anak) masih bingung. Kami bingung membedakan antara kabut asap dan kabut embun pagi, serta bingung apakah asap pekat ini berbahaya atau tidak bagi manusia. Setelah tahun 1997, bencana kabut asap rutin hampir setiap tahun terjadi.

Momen kedua terjadi tahun 2004,kali ini momennya lebih mengerikan. Pada tahun ini mulai banyak terdapat korban akibat dari kabut asap ini. Banyak diantara mereka yang harus menghabiskan biaya dan waktu untuk berobat dirumah sakit. Banyak sekolah-sekolah yang diliburkan satu sampai dua minggu.

Momen ketiga terjadi sekitar tahun 2008/2009. Lagi-lagi bencana kabut asap menjadi topik pembahasan dimasyarakat dan media massa. Tapi tidak hanya itu, pembahasan mulai beralih ke bagaimana dampak hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia hingga saat ini.

Jusuf Kalla saat pernah melontarkan satu komentar pedas yang kurang lebih berbunyi "Malaysia dan Singapura saat ini marah-marah karena terkena dampak asap kebakaran hutan dari Sumatera, padahal selama ini mereka akan menikmati udara segar dari hutan Sumatera secara gratis."

Momen yang juga masih segar adalah ketika tahun lalu pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono meminta ketegasan aparat untuk menindak perusahaan-perusahaan nakal yang terlibat dalam pembakaran hutan di Sumatera. Tindakan ini sekilas kelihatan efektif, sebab aparat keamanan memang berhasil mengantongi sejumlah nama perusahaan, dan kemudian menyeretnya ke pengadilan (walaupun kabarnya hanya terdengar samar-samar). Namun ironinya kini di tahun 2015, masyarakat di sebagian Sumatera kembali terkena bencana kabut asap.

Deretan momen-momen menunjukkan dua hal. Pertama, kabut asap ini merupakan kejadian yang sudah berulang-ulang kali terjadi (setidaknya) sejak 18 tahun lalu, dan belum juga menemukan solusi permanen. Kedua, bencana kabut asap ini sudah menyentuh berbagai dimensi kehidupan, yaitu Ekonomi, Sosial, Politik, Hukum, serta Kesehatan. Begitu banyak kegiatan masyarakat yang terhambat akibat bencana ini, seperti penundaan/pembatalan jadwal penerbangan, peliburan sekolah, atau kegiatan-kegiatan ekonomi yang ada di luar ruangan. Dimensi hubungan internasional pun ikut terganggu. Proses penegakan hukum pun ikut dipertanyakan.

Berapa banyak lagi penduduk Indonesia yang harus mengalami penurunan kesehatan? Masyarakat kebanyakan belum sadar akan hal ini, makanya mereka masih banyak yang beraktivitas di tengah kabut asap. Padahal jika saja mereka tau detil dari mana asap ini berasal (apa-apa saja tanaman dan barang-barang yang terbakar), dan apa reaksi kimianya terhadap tubuh, mungkin mereka tidak ingin sedetik pun keluar dari rumah. Di kota-kota di Sumatera, saat ini sudah ditemukan ribuan kasus ISPA.


Emoticon Emoticon